Kamis, 24 November 2016
Rabu, 09 November 2016
Tugas Inderaja(Satelit Landsat sensor ETM)
Nama: Siti Hajar Rumau
Nim : 201464043
Land Satellite (Landsat) merupakan program tertua dalam perangkat observasi bumi. Landsat dimulai tahun 1972 dengan nama Earth Resources Technology Satellite (ERTS-1). Satelit ini merupakan satelit sumberdaya alam yang pertama. Satelit Landsat terdiri dari beberapa seri yaitu: Landsat-1, Landsat-2, diteruskan 3, 4, 5, 6 dan terakhir adalah Landsat 7 dimana merupakan bentuk baru dari Landsat 6 yang gagal mengorbit.
Landsat-5 atau Landsat Thematic Mapper (TM) memiliki resolusi spasial 30x30 m pada band 1, 2, 3, 4, 5 dan 7. Sensor TM mengamati obyek-obyek di permukaan bumi dalam 7 band spektral, yaitu band 1, 2 dan 3 adalah sinar tampak (visible), band 4, 5 dan 7 adalah infra merah dekat (NIR), infra merah menengah, dan band 6 adalah infra merah termal yang mempunyai resolusi spasial 120x120 m. Luas liputan satuan citra adalah 180x180 km pada permukaan bumi. Landsat TM mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada ketinggian orbit 705 km. Terdapat banyak aplikasi dari data Landsat TM diantaranya untuk pemetaan penutupan lahan, pemetaan penggunaan lahan, pemetaan tanah, pemetaan geologi, pemetaan suhu permukaan laut dan lain-lain. Landsat TM adalah satu-satunya satelit non-meteorologi yang mempunyai band inframerah termal.
Landsat-7 merupakan citra dengan resolusi spasial 30x30 m pada band 1, 2, 3, 4, 5, 7 dan 60x60 m pada band 6 (thermal). Landsat-7 dilengkapi dengan
Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) yang merupakan kelanjutan dari program Thematic Mapper (TM) yang diusung sejak Landsat-5. Saluran pada satelit ini pada dasarnya adalah sama dengan 7 saluran pada TM, namun diperluas dengan saluran 8 yaitu Pankromatik. Saluran 8 ini merupakan saluran beresolusi tinggi yaitu seluas 15 meter.
Landsat-8 adalah satelit Landsat seri terbaru yang diluncurkan pada tanggal 11 Februari 2013. Satelit ini merupakan satelit kedelapan dalam program Landsat (ketujuh untuk berhasil mencapai orbit). Pada awalnya disebut
Landsat Data Continuity Mission (LDCM), adalah sebuah kolaborasi antara NASA dan Geological Survey Amerika Serikat (USGS). NASA menyediakan pengembangan rekayasa sistem misi dan akuisisi kendaraan peluncuran, sementara USGS disedikan untuk pengembangan sistem darat dan melakukan operasi misi terus-menerus. Landsat-8 direncanakan mempunyai durasi misi selama 5-10 tahun, dilengkapi dua sensor yang merupakan hasil pengembangan dari sensor yang terdapat pada satelit-satelit pada program Landsat sebelumnya. Kedua sensosr tersebut yaitu Sensor Operational Land Manager (OLI) yang terdiri dari 9 Band serta Sensor InfraRed Sensor (TIRS) yang terdiri dari 2 band.
Karakteristik Citra Satelit Landsat-7
Sistem Landsat-7
Orbit 705 km, 98,2 o , sun-synchronous, 10:00 AM
Crossing, Rotasi 16 hari (repeat cycle)
Sensor ETM+ (Enhanced Thematic Mapper)
Swath Width 185 km (FOV=15 o )
Off-track viewing Tidak tersedia
Revisit Time 16 hari
Resolusi spasial 15 m (pankromatik), 30 m (multispektral), 60 m (termal)
Karakteristik Citra Satelit Landsat-8
Sistem Landsat-7
Orbit 705 km, 98,2 o , sun-synchronous, 10:00 AM
Crossing, Rotasi 16 hari (repeat cycle)
Sensor Operating Land Imagery (OLI)
Swath Width 185 km (FOV=15 o )
Off-track viewing Tidak tersedia
Revisit Time 16 hari
Resolusi spasial 15 m (pankromatik), 30 m (multispektral), 100 m (termal)
Orbit
Worldwide Reference System-2 (WRS-2) path/row system
Sun-synchronous orbit at an altitude of 705 km (438 mi)
233 orbit cycle; covers the entire globe every 16 days (except for the highest polar latitudes)
Inclined 98.2° (slightly retrograde)
Circles the Earth every 98.9 minutes
Equatorial crossing time: 10:00 a.m. +/- 15 minutes
Sensors
Operational Land Imager (OLI)
Nine spectral bands, including a pan band:
Band 1 Visible (0.43 - 0.45 µm) 30 m
Band 2 Visible (0.450 - 0.51 µm) 30 m
Band 3 Visible (0.53 - 0.59 µm) 30 m
Band 4 Near-Infrared (0.64 - 0.67 µm) 30 m
Band 5 Near-Infrared (0.85 - 0.88 µm) 30 m
Band 6 SWIR 1(1.57 - 1.65 µm) 30 m
Band 7 SWIR 2 (2.11 - 2.29 µm) 30 m
Band 8 Panchromatic (PAN) (0.50 - 0.68 µm) 15 m
Band 9 Cirrus (1.36 - 1.38 µm) 30 m
Thermal Infrared Sensor (TIRS)
Two spectral bands:
Band 10 TIRS 1 (10.6 - 11.19 µm) 100 m
Band 11 TIRS 2 (11.5 - 12.51 µm) 100 m
Tugas Inderaja (Interpretasi Citra Visual)
Nama: Siti H Rumau
Nim :201464043
1. Vink
Menurut Lo (1976) terdapat enam tahap interpretasi citra menurut Vink yaitu sebagai berikut :
1. Deteksi, merupakan penyadapan data secara selektif atas obyek (tampak langsung) dan elemen (tak tampak langsung) dari citra.
2. Pengenalan dan identifikasi, setelah dilakukan deteksi maka obyek akan dikenali, diidentifikasi.
3. Analisis, yaitu suatu proses pemisahan dengan cara penarikan garis batas kelompok obyek atau elemen yang memiliki wujud yang sama.
4. Deduksi, proses ini dilakukan berdasarkan pada asas konvergensi bukti untuk prediksi terjadinya hubungan tertentu, dimana konvergensi bukti merupakan penggunaan bukti-bukti yang masing-masing saling mengarah pada satu titik simpul.
5. Klasifikasi, tujuan dilakukannya klasifikasi adalah untuk menyusun obyek dan elemen ke dalam sistem yang teratur.
6. Idealisasi, merupakan penggambaran hasil dari interpretasi tersebut.
Hasil interpretasi citra sangat bergantung atas penafsir citra dan tingkat referensinya. Tingkat referensi adalah seberapa luas dan seberapa dalam pengetahuan penafsir citra. Ada tiga tingkat referensi yaitu seperti dibawah ini :
a. Umum adalah pengetahuan umum penafsir citra tentang gejala dan proses yang diinterpretasi.
b. Lokal adalah pengetahuan penafsir citra terhadap daerah yang diinterpretasi.
c. Khusus adalah pengetahuan yang mendalam tentang proses dan gejala yang diinterpretasi.
2. Lo
Berdasarkan pada pendapat Vink maka Lo mengemukakan bahwa interpretasi citra dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1. Deteksi.
2. Merumuskan identitas obyek dan elemen berdasarkaan karakteristik foto (ukuran, bentuk, bayangan, rona, tekstur, pola dan situs).
3. Mencari arti melalui proses analisis dan deduksi.
4. Klasifikasi melalui serangkian keputusan, evaluasi, dan sebagainya berdasarkan kriteria yang ada.
5. Teorisasi yaitu menyusun teori atau menggunakan teori yang ada pada disiplin yang bersangkutan.
Pada dasarnya interpretasi citra terdiri dari dua proses yaitu proses perumusan identitas obyek dan elemen yang dideteksi pada citra, serta proses untuk menemukan arti pentingnya obyek dan elemen tersebut. Karakteristik foto seperti ukuran, bentuk, bayangan dan sebagainya digunakan untuk identifikasi obyek, sedangkan analisis dan deduksi digunakan untuk menemukan hubungan dalam proses yang kedua. Proses tersebut menghasilkan sebuah klasifikasi dalam upaya menyajikan sejenis keteraturan dan kaitan antara informasi kualitatif yang diperoleh. Klasifikasi tersebut menuju kearah teorisasi yang artinya penyusunan teori berdasarkan penelitian yang bersangkutan atau penggunaan teori yang ada sebagai dasar analisis dan penarikan kesimpulan didalam penelitian itu. Maka interpretasi citra pada dasarnya berupa proses klasifikasi yang bertujuan untuk memasukkan gambaran pada citra ke dalam kelompok yang tepat sehingga diperoleh pola dan hubungan yang saling berkaitan.
3. Roscoe
Roscoe (1960) menyatakan bahwa interpretasi citra meliputi serangkaian proses yang berupa :
1. Interpretasi awal,
2. Pembuatan peta kerja,
3. Pekerjaan medan,
4. Tinjauan kembali atas masalah dan metode,
5. Interpretasi akhir,
6. Kesimpulan dan uji medan,
7. Penyajian akhir.
Pada interpretasi awal dilakukan interpretasi dari citra berskala kecil ke arah yang skalanya lebih besar, dari pola umum ke wujud individual, dari obyek yang mudah dikenal hingga ke arah yang lebih sukar dikenal. Setelah diamati pola umumnya, kemudian dikaji secara rinci unsur-unsur yang membentuk pola tersebut. Hasil interpretasi awal ini diwujudkan dalam peta kerja.
Dengan menggunakan peta kerja dan citra yang lebih diinterpretasi, pekerjaan medan dapat dilakukan lebih efisien, terarah lebih baik, serta pelaksanaanya lebih singkat. Kadang – kadang di medan juga dilakukan interpretasi citra untuk mengembangkan informasi baru yang diperoleh dengan pengamatan langsung.
Tinjauan atas masalah dan metode yang dipilih untuk pemecahan masalah perlu dilaksanakan untuk menyimpulkan apakah ia akan tetap pada masalah yang telah dirumuskan dan metode yang dipilih. Kemudian dilakukan interpretasi akhir, penarikan kesimpulan, dan penyusunan kerangka laporan. Sebelum menulis laporan, lebih baik datang sekali lagi ke daerah penelitian untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang timbul pada interpretasi akhir.
Penyajian hasil interpretasi dapat dilakukan dengan menyajikan gambaran dalam kaitan spasial yang jelas dan dapat digunakan foto udara serta citra lainnya yang diberi notasi, mosaik foto, dan peta. Disamping itu, informasi yang terkumpul juga dapat menjadi kunci interpretasi citra.
4. Umali
Umali (1983) memaparkan tiga tahap menginterpretasi citra Landsat yaitu :
1. Analisis citra
Penafsiran citra dimulai dengan mendeteksi rona atau warna pada citra dengan menarik garis batas bagi kelompok wujud yang rona atau warnanya sama dan memisahkannya dari yang lain.
2. Interpretasi citra
Pengenalan jenis obyek dilakukan dengan menggunakan unsur spasial seperti ukuran, bentuk, tekstur, bayangan, dan situsnya. Obyek yang tergambar pada citra tidak hanya dikenali jenisnya, melainkan juga dikaji polanya atau susunan keruangannya. Pola tersebut antara lain berupa pola bentuk lahan, pola bentang budaya, pola aliran, dan pola penggunaan lahan.
3. Interpretasi disipliner terinci
Jenis dan pola obyek yang tergambar pada citra diinterpretasi arti pentingnya sesuai dengan tujuan interpretasinya misalnya untuk geologi, penggunaan lahan, sumberdaya akuatik, lingkungan, dan hidrologi.
5. Estes et al
Estes et al (1983) memaknai analisis citra sebagai keseluruhan pekerjaan interpretasi citra. Estes et al mengemukakan suatu paradigma analisis citra secara manual atau visual dan digital.
Pekerjaan analisis citra meliputi tiga yaitu :
1) deteksi dan identifikasi
2) pengukuran
3) pemecahan masalah
Mula-mula dilakukan deteksi obyek penting yang tergambar pada citra, kemudian obyek tersebut
diukur dengan cara manual atau menggunakan instrumen. Pengukuran ini dilakukan atas rona atau warna, bentuk, luas, lereng, bayangan, terkstur, atau aspek lainnya. Pengukuran ini penting dalam upaya pemecahan masalah yang dapat beraneka bentuknya, antara lain berupa pengenalan obyek melalui pengamatan obyek lain atau pengenalan kompleks obyek berdasarkan obyek satu persatu, pemecahan masalah juga berarti penggunaan yang tepat data yang telah diperoleh dari citra penginderaan jauh.
Baik dengan cara manual maupun digital, cara analisisnya berdasarkan pada unsur interpretasi citra, yang dalam hal ini dilakukan analisis yang aturannya berbeda bagi cara manual dan cara yang bersifat mempermudah dan atau mempertinggi hasil analisisnya.
Analisis citra secara manual pada dasarnya merupakan proses deduktif. Penarikan kesimpulan didasarkan atas apa yang telah diketahui atau sesuatu yang kebenarannya telah diterima secara umum. Di samping itu, obyek yang mudah dikenali pada citra bersifat mengarahkan ke pengenalan obyek lainnya. Di dalam menyimpulkan jenis obyek atau kondisi suatu daerah yang tergambar pada citra, digunakan lebih dari satu unsur yang masing-masing mengarah ke satu kesimpulan, tidak ada yang bertentangan. Asas inilah yang disebut konvergensi bukti (converging evidence, convergence of evidence).
Rabu, 02 November 2016
Kamis, 27 Oktober 2016
Tugas II Inderaja Kelautan
Nama: Siti Hajar Rumau
Nim :201464043
Hambatan Atmosfer untuk gelombang elektromagnetik
Atmosfer
Atmosfer bersifat selektif terhadap panjang gelombang sehingga hanya sebagian kecil tenaga elektromagnetik dari radiasi sinar Matahari yang dapat mencapai permukaan bumi dan dimanfaatkan untuk peng- inderaan jauh. Bagian spektrum elektromagnetik yang mampu melalui atmosfer dan dapat mencapai permukaan bumi disebut jendela atmosfer ( atmospheric window).
Kisaran panjang gelombang yang paling banyak digunakan dalam penginderaan jauh adalah sebagai berikut.
a. Spektrum Gelombang Cahaya Tampak (Visible ), yaitu spektrum gelombang cahaya yang memiliki panjang gelombang antara 0,4μm–0,7μm. Cahaya tampak yang paling panjang adalah merah, sedangkan yang paling pendek adalah violet.
b. Spektrum Gelombang Cahaya Inframerah ( Infrared ), yaitu spek- trum gelombang cahaya yang memiliki panjang gelombang antara0,7μm–1,0μm.
c. Spektrum Gelombang Mikro, yaitu spektrum gelombang yang memiliki panjang gelombang antara 1,0μm–1,0m.
Tenaga berupa gelombang elektromagnetik dari radiasi Matahari tidak dapat mencapai permukaan bumi secara utuh. Gelombang elektro- magnetik mengalami hambatan oleh atmosfer. Hambatan ini terutama disebabkan penyerapan, pantulan, dan hamburan oleh butir-butir yang ada di atmosfer, seperti debu, uap air, gas karbondioksida, dan ozon.
Atmosfer membatasi bagian spectrum elektromagnetik yang dapat digunakan dalam pengineraan jauh. Pengaruhnya bersifat selektif terhadap panjang gelombang. Oleh karena itu, maka timbul istilah jendela atmosfer (bagian spektum elektromagnetik yang dapat mencapai bumi). Dalam jendela atmosfer terdapat hambatan atmosfer, yaitu kendala yang di sebabkan oleh hamburan pada spectrum tampak dan serapan yang terjadi pada spectrum inframerah internal.
Interaksi tenaga dari obyek ke sensor senantiasa melewati atmosfer, dan di dalam atmosfer banyak sekali terjadi interksi antara lain:
1. Hamburan
Ada 3 macam hamburan yang terjadi pada spektrum diantara nya sebagai berikut :
a. Hamburan Rayleight, terjadi apabila radiasi matahari berinteraksi dengan molekul dan partikel kecil atmosfer, yaitu 0,1 panjang gelombang. panjang gelombang sinar biru menyebabkan langit berwarna biru. jika tidak ada hamburan, langit akan berwarna hitam. Hamburan tersebut akan menyebabkan adanya kabut tipis yang mengganggu pemotretan dari tempat tinggi. Akan tetapi, kabut ini dapat dikurangi atau dihilangkan dengan memasang filter spektrum hamburan di depan lensa kamera jika pemotretan dilakukan pada ketinggian 15.000 kaki - 30.000 kaki.
b. Hamburan Mie, terjadi apabila kandungan atmosfer sama dengan panjang gelombang atau memiliki diameter 0,1-25 panjang gelombang. Hambatan ini terjadi pada ketinggian 15.000 kaki. Penyebab utama terjadinya hambatan ini adalah uap air atau debu.
c. Hambatan nonselektif, terjadi apabila gatis tengah partikel di atmosfer lebih panjang dari panjang gelombang yang diindera. misalnya air hujan dapat menyebabkan hamburan ini.
selain ada hamburan ada juga yang disebut dengan serapan oleh atmosfer, yaitu merupakan gangguan terhadap tenaga elektromagnetik. serapan merupakan kendala utama bagi spektrum inframerah. penyebabnya adalah uap air, karbondioksida, dan ozon.
2. Serapan
Merupakan kebalikan dari hamburan yang menyebabakan kehilanga efektif tenaga ke pembentuk atmosfer.
3. Interaksi antara tenaga dan objek
Objek adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran dalam penginderaan jauh seperti atmosfer, biosfer, hidrosfer, dan litosfer.
Pengenalan objek biasanya dilakukan dengan menyelidiki karakteristik spectral objek yang tergambar pada citra. Objek yang banyak memantulkan/memancarkan tenaga akan tampak cerah pada citra, sedangkan objek yang pantulannya/pancarannya sedikit maka akan tampak gelap. Namun kadang ada objek yang berlainan tetapi mempunyai karakteristik spectral yang sama atau serupa sehingga menyulitkan penbedaannya pada citra. Hal ini dapat diatasi dengan menyelidiki karakteristik lain selain karakteristik spectral, misalnya bentuk, ukuran, dan pola.
Tugas I Inderaja Kelautan
Nama :Siti Hajar Rumau
Nim :201464043
GAMBARAN HISTORIS PERKEMBANGAN INDERAJA
-PERKEMBANGAN SISTEM DAN WAHANA
Penginderaan jauh pada awalnya dikembangkan dari teknik interpretasi foto udara. Pada tahun 1919 telah dimulai upaya pemotretan melalui pesawat terbang dan interpretasi foto udara (Howard, 1990). Meskipun demikian, teknik interpretasi foto udara untuk keperluan sipil (damai) sendiri baru berkembang pesat setelah Perang Dunia II, karena sebelumnya foto udara lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan militer. Dalam tiga puluh tahun terakhir, penggunaan teknologi satelit dan teknologi komputer untuk menghasilkan informasi keruangan (atau peta) suatu wilayah semakin dirasakan manfaatnya. Penggunaan teknik interpretasi citra secara manual, baik dengan foto udara maupun citra non-fotografik yang diambil melalui wahana selain pesawat udara dan sensor selain kamera hingga saat ini telah cukup mapan dan diakui manfaat dan akurasinya. Di sisi lain, pengolahan atau pemrosesan citra satelit secara digital telah taraf operasional untuk seluruh aplikasi di bidang survei-pemetaan.
-PERKEMBANGAN APLIKASI
Penginderaan jauh sekarang tidak hanya menjadi alat bantu dalam menyelesaikan masalah. Begitu luasnya lingkup aplikasi penginderaan jauh sehingga dewasa ini bidang tersebut telah menjadi semacam, kerangka kerja (framework) dalam menyelesaikan berbagai masalah terkait dengan aspek ruang (lokasi, area), lingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional). Perkembangan ini meliputi skala sangat besar (lingkup sempit) hingga skala sangat kecil (lingkup sangat luas).Penginderaan jauh di awal perkembangannya berasosiasi dengan aplikasi militer, karena gambaran wilayah yang dapat disajikan secara vertikal mampu memberikan inspirasi bagi pengembangan strategi perang yang lebih efektif daripada peta.Penggunaan teknologi foto inframerah akhirnya juga dimanfa-atkan untuk aplikasi pertanian, khususnya dalam konteks perkiraan kerapatan vegetasi, biomassa dan aktivitas fotosintesis, karena kepekaan pantulan sinar inframerah dekat ternyata berkaitan dengan struktur interal daun dan kerapatan vertikal vegetasi. Foto udara inframerah juga terbukti efektif pembedaan objek air dan bukan air, sehingga pemetaan garis pantai pun sangat terbantu oleh teknologi ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, sensor-sensor ini merambah ke wilayah spektra panjang gelombang yang lebih luas, seperti misalnya inframerah tengah, jauh dan termal, serta gelombang mikro.
-PERGESERAN PENERAPAN TEKNOLOGI: DARI PEMERINTAH KE SWASTA
Pada tahun 1994, pemerintah Amerika Serikat mengambil keputusan untuk mengijinkan perusahaan sipil komersial untuk memasarkan data penginderaan jauh resolusi tinggi, yaitu antara 1-4 meter (Jensen, 1996). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan berakhirnya era Perang Dingin. Dua perusahaan swasta, yaitu Earth Watch dan Space Imaging segera menanggapi keputusan ini dengan mengeluarkan produk mereka, masing-masing adalah Earlybird dan Quickbird ( Earth Watch ) dan Ikonos (Space Imaging ). Earlybird memberikan resolusi spasial 3 meter untuk citra pankromatik dan 15 meter untuk citra multispektral meskipun proyek ini kemudian gagal; sedangkan Quick Bird dan Ikonos mampu memberikan citra dengan resolusi spasial yang lebih tinggi, yaitu masing-masing 0,6 dan 1 meter untuk pankromatik 2,4 dan 4 meter untuk multispektral. GeoEye saat ini mampu memberikan data pada resolusi sekitar 40 cm, meskipun Pemerin-tah Amerika Serikat membatasi distribusi dan penggunaan citra resolusi spasial tinggi hanya sampai dengan 50 cm.
-PERKEMBANGAN TEKNIK ANALISIS
*Dari Manual ke Digital
Ketika berbagai negara berkembang masih memiliki akses terbatas ke sistem komputer untuk pengolahan citra digital, pemanfaatan produk penginderaan jauh satelit masih berupa citra tercetak ( hard copy ) yang diinterpretasi secara visual atau manual. Teknik interpretasi semacam ini telah berkembang pesat dalam penginderaan jauh sistem fotografik, dan hingga saat ini merupakan teknik yang dipandang mapan. Prinsip-prinsip interpretasi fotografis dapat diterapkan pada citra satelit yang telah dicetak, dan memberikan banyak informasi mengenai fenomena spasial di permukaan bumi pada skala regional.Sejalan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin pesat dewasa ini --di mana banyak perusahaan telah melakukan downsizing (beralih dari komputer mainframe ke komputer mini, dan dari komputer mini ke komputer mikro/PC) maka akses berbagai kelompok praktisi dan akademisi ke otomasi pengolahan citra digital pun semakin besar. Semakin banyak paket perangkat lunak pengolah citra digital dan SIG yang dioperasikan dengan PC dan bahkan komputer jinjing ( laptop ).fasilitas analisis spasial dari SIG mampu mempertajam kemampuan analisis penglohan citra, terutama dalam hal pemanfaatan data bantu untuk meningkatkan akurasi hasil klasifikasi multispektral (Jensen, 2005).
*Dari Multispektral ke Multisumber dan Hiperspektral
Pada awal perkembangannya, kamera hanya mampu menghasil-kan foto hitam-putih. Hal yang sama diberikan oleh foto yang dipasang pada pesawat udara untuk kebutuhan pengintaian dalam aplikasi miltiter. Kehadiran film berwarna pun secara cepat berimbas pada penggunaan yang lebih intensif dalam penginderaan jauh berbasis foto udara. Ketersediaan film inframerah kemudian mendorong perkembang-an kamera multisaluran (multiband), yang pada umumnya memuat empat lensa dalam satu badan kamera, dengan kepekaan yang berbeda-beda untuk wilayah spektral berikut: biru, hijau, merah dan inframerah dekat. Tahap ini menandai perkembangan sistem pemotretan dari yang bersifat unispektral (saluran tunggal) dan berjulat spektral lebar –misalnya dari biru hingga merah— ke sistem pemotretan multispektral. Analisis visual foto udara pankromatik, baik hitam-putih maupun berwarna pun kemudian bergeser ke analisis multispektral sederhana, dengan memanfaatkan alat pemadu warna elektrik seperti additive colour viewer (ACV).
ACV merupakan suatu antarmuka ( interface) yang dapat digunakan untuk menampilkan diapositif film multispektral dengan penyinaran warna primer (merah, hijau dan biru) untuk masing-masing saluran.Dengan tersedianya sistem perekam citra digital, maka citra multispektral pun diolah dengan komputer dan setiap kombinasi warna dalam bentuk citra komposit bisa dihasilkan dengan mudah.Perkembangan analisis multispektral juga mengarah ke penambahan jumlah saluran dan lebar setiap saluran. Sistem hiperspektral mampu mencitrakan fenomena di permukaan bumi dengan jumlah saluran spektral yang mencapai ratusan dan dengan lebar setiap saluran yang hanya beberapa nanometer.
*Dari Per-piksel ke Per-objek
Perkembangan sistem penginderaan jauh satelit telah menghasilkan citra-citra digital yang tidak pernah dibayangkan oleh praktisi di tahun 1980-an, yaitu citra multispektral dengan kualitas detil yang mendekati atau bahkan menyamai foto udara.perusahaan-perusahaan swasta mengoperasikan satelit penginderaan jauh dengan teknoogi satelit mata-mata.Kehadiran citra resolusi spasial tinggi telah menantang para analis citra untuk mengembangkan metode ekstraksi informasi tematik yang berbeda dengan klasifikasi multispektral –yang biasa diterapkan pada citra resolusi spasial menengah dan rendah. Metode ini dikenal dengan nama klasifikasi berbasis objek ( object-based classification). Di Indonesia, citra resolusi spasial tinggi lebih banyak diperlakukan seperti foto udara karena para analis mengalami kesulitan dalam menerapkan klasifikasi multispektral terhadap citra semacam itu. Pada klasifikasi multispektral citra resolusi tinggi, satu piksel merupakan bagian dari objek penutup lahan yang umumnya berukuran jauh lebih besar, sehingga hasil klasifikasi cenderung merupakan kumpulan piksel yang tidak berkaitan langsung dengan kategorisasi objek yang dikembangkan dalam klasifikasi (Danoedoro, 2006). Untuk mengatasi masalah ini, dalam kurun 10 tahun terakhir mulai berkembang metode klasifikasi berbasis objek, yang memanfaatkan teknik segmentasi citra (Baatz dan Schappe, 2000; Ranasinghe, 2006; Navulur, 2007).


